Minggu, 01 Februari 2015

Taqwa Kepada Allah SWT



Disampaikan Di Mesjid Nurul Ulum Bumbang Lotim (NTB) Pada 29 Agustus 2014

Taqwa Kepada Allah SWT
By: Arman Muhammad (Hadza Zuhduna)
الحمد لله نستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من سرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا # من يهده الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له # أشهد أن لا إله إلا الله وحده لاشريك له # وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله # اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه ومن واله..... أما بعد....
فيا عباد الله .......!
أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فإنه وصيته سبحانه وتعالى للأولين والآخرين. قال الله عز وجلا: "ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولاتموتن إلاّ وأنتم مسلمون"
Jama’ah Sholat Jum’at Yang Dirahmati Allah…
Dari mimbar nan suci ini, saya mengajak kepada diri pribadi saya sendiri dan jama’ah sekalian untuk selalu meningkatkan taqwa kepada Allah SWT pada seluruh aspek kehidupan kita di dunia ini. Sebab tidak ada sesuatu yang lebih berharga dari pada taqwa kepada Allah SWT. Bahkan kemuliaan di sisi Allah tidak akan pernah kita gapai (raih) tanpa melalui jalan taqwa kepada-Nya. Allah SWT. Berfirman:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa di antara kalian”

Kegalauan Zhiena



Sudah enam bulan lamanya Zuhdu meninggalkan tanah air tercinta, bumi Daha seakan masih basah dengan jejak tapak kakinya, surau Raudhatus Sholihien seakan masih bergema dengan suara merdunya melantunkan bait-bait suci surah ar-rahman saat petang menjelang senja, anak-anak kecil masih ramai bermain di pelataran surau menanti adzan maghrib dikumandangkan, sementara penduduk sekitar telah rehat dari aktifitas duniawi nan melelahkan, dengan sarung menggulung di pinggang dan baju koko serta peci yang didominasi warna putih menunjukkan bahwa penduduk sekitar surau adalah masyarakat yang agamis.

Pertanyaan Ayah



Zuhdu hanya bisa menunduk dan tidak bisa berkata apa-apa saat ayahnya menatap wajahnya dalam-dalam seakan ingin menyelidiki apa gerangan yang terjadi pada putra kinansihnya itu. Wajahnya seketika berubah, keringat dingin bercucuran dari jidat dan kepalanya. Kali ini ia benar-benar kikok berhadapan dengan ayahnya, entah kenapa ayahnya seakan membaca apa yang sedang dialaminya belakangan ini. tiba-tiba ayahnya berkata; “Zuhdu… kau putra ayah satu-satunya, sejak kecil kau tak pernah lepas dari ayah. Lebih-lebih sejak kepergian ibumu saat kau masih berusia enam tahun. Selalu tingkah laku dan gerak gerikmu tak pernah lepas dari perhatian ayah, bahkan sampai saat ini. tapi saat ini ayah melihatmu seperti seorang pengelana yang tersesat di belantara hutan rimba, apa gerangan yang terjadi pada dirimu Zuhdu?....”

من يلمني في غرامي عاشق جمالك

“Zhiena,,, kau sudah gila ya???...” tanya Ariena penuh emosi. “tidak Rien... aku masih waras” jawab Zhiena santai.
“Apa....! masih waras, katamu?” Ariena menatap Zhiena sambil mengerutkan keningnya penuh keheranan.
“Sungguh.... ku tak mengira...” Ariena menggeleng-gelengkan kepala.
“Zhiena, coba kau lihat,,,, tidak kah kau sadar dengang perubahan fisikmu yang begitu drastis belakangan ini. Sebigitu dalamkah cintamu pada lelaki itu, sampai kau melupakan dirimu, makan tak teratur, tidurmu pun jarang. Bahkan hanya untuk mengingat kekasihmu itu, kau lebih senang meneteskan air mata daripada tertawa riang bersama kita-kita. Zhiena... siapa sih dia???... selama ini kau belum pernah bertemu dengannya, belum pernah melihat wajahnya, belum pernah melihat senyumnya, bahkan suaranya pun tidak... terus kau jatuh cinta padanya begitu saja???... nganeh...!” Ariena mengakhiri omelannya dengan wajah cemberut penuh kegusaran.
“Rien.... kau belum tau siapa dia yang selama ini menjadi kekasihku, kau belum tau alasan kenapa kumencintainya, kau belum tau dari mana cintaku ini datang, kau hanya tau perubahan fisikku, namun kau tak tau tentang hatiku, jiwaku, dan perasaanku. Betapa bahagianya aku saat mencintainya, betapa gembiranya hatiku saat mengenalnya. Meski aku belum pernah berjumpa dengannya, belum pernah melihat wajahnya, belum pernah menyaksikan senyumnya, belum pernah mendengar suaranya. Namun yang perlu kau tau Rien, CINTAKU PADANYA TELAH MENDAHULUI SEGALANYA”.....
“TAK USAH KAU KHAWATIR RIEN,,,, AKU MASIH WARAS” kata Zhiena sambil tersenyum penuh ketulusan, kemudian merangkul sahabatnya itu... 

Hafalan, Tradisi Intelektual dan Kemajuan Peradaban Islam

Prolog

Sebagai salah satu tahap/proses menuntut ilmu, hafalan bukanlah metode asing dalam khazanah Islam. Ia telah dikenal dan dipraktekkan sejak zaman Nabi Muhammad saw. Setiap menerima wahyu, beliau langsung menyampaikan dan memerintahkan para sahabat untuk menghafalnya. Dari apa yang Rasulullah saw lakukan, hafalan Al-Qur’an selalu dibarengi dengan pemahaman (QS. al-Nahl: 44), demikian juga dengan hafalan Hadith.

Dari situ, terbangun pandangan hidup, epistemologi Islam dan ilmu-ilmu Keislaman. Dengan demikian,  tuduhan bahwa hafalan hanya melemahkan kreatifitas bukan hanya tidak tepat, tetapi juga mengaburkan arti penting hafalan dalam perkembangan peradaban Islam.