Minggu, 01 Februari 2015

_____Lekuk Tubuh Wanita Itu Berharga dan Mulia_____



Berhijab, berjilbab, atau berniqab. tiga kata ini masing-masing punya arti yang berbeda dan diterangkan dengan gamblang dan jelas di dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits. tapi sayang belakangan ini, tiga kata itu sering kali tidak dipahami dengan baik (maaf) oleh kebanyakan akhwat muslimah. dan ironinya hijab, jilbab, ataupun niqab zaman sekarang, lebih dijadikan sebagai ajang kebaggaan. entah kebanggaan golongan, pribadi, perorangan atau yang lainnya. yang jelas saya melihat hijab zaman sekarang sangan jauh sekali dari (dzalikum athharu li qulubikum wa qulubihinna) lebih-lebih jilbab (dzalika adna an yu'rafna falaa yu'dzaina) tidak mudah dikenal dan tidak mudah disakiti, begitulah kira-kira. sampai saat ini saya masih sulit memahami bentuk modelnya jilbab para akhwat, sebab yang sering saya temukan jilbabnya para akhwat seringkali mempertontonkan gaya hidupnya, sehingga jilbab sering kali dipakai dan dibuat menurut keinginan dan selera masing-masing, sementara tuntunan Al-Qur'an dan syari'at dikebelakangkan.

~Untuk Tiadaku Aku Rindu~



Ya Allah kuatkanlah dadaku menahan getaran ayat-ayat Mu.
"fa dzakkir innafa'atidz dzikra # sayadzdzakkaru man yakhsya # wa yatajannabuhal asyqa...."

Ya Allah...
ku tak ingin menjadi pendurhaka-Mu
pembangkang ayat-ayat Mu
namun...
tanpa hidayah Mu aku sendu dalam gadaiku

~Kau kah~



Kau kah mujahid itu?...,
Mujahid yang menghunus belati ketakukan
menikam domba kemalasan.
kau kah mujahid yang telah membubarkan kantuk
meramaikan malam hingga suntuk
kau kah mujahid yang berdzikir mengirama
merasuk sum-sum hingga sukma
mengiringi malam hingga terdengar suara
hal min daa'in
hal min mustaghfirin
hal min taaibin

~Genggamlah Aku Dalam Ketiadaanku~



Ini melelahkan,
iya... sungguh sangat melelahkan...
mencari-cari ketenangan di tengah kerumunan duniawi.
mencari-cari keindahan di tengah gersangnya hati
mencari-cari kelembutan dibekas jejak tapak kebengisan
di sini, di bumi yang ku pijak ini
seperti tak ada lagi pohon yang rindang untuk ku berteduh
melepas penat menyeka peluh
seperti tak ada lagi sumur yang berisikan air sejuk
barang setetes tuk menghilangkan dahaga yang mencekuk
seperti tak ada lagi buah yang segar
tuk menghilangkan perih dan lapar
seperti tak ada lagi kendaraan yang bisa mengantarkanku ke batas kota
agar ku tak lagi melihat silaunya dunia.

Senin, 30 Juni 2014

Maukah Kau Mengajariku

Sobb....
Maukah kau mengajariku cara mendaki yang baik, agar kakiku tak terkilir karena terpleset, agar batu yang kuinjak tak bergeser atau jatuh, agar tak setangkai dahan, ranting, ataupun daun lepas dari pohonnya. Maukah kau mengajariku tentang bagaimana teknik packing ransel (carrier) yang baik, agar punggungku tetap ringan dan tak terlalu terbebani oleh keperluan-keperluan fisik. Maukah kau mengajariku tentang membuat tenda yang nyaman untuk beristirahat di saat ku didera kelelahan dan kecapean di tengah pendakian nanti dan di saat kutiba di puncak kelak. Maukah kau mengajariku bagaimana cara menggunakan kompas agar ku tak tersesat di tengah belantara. Maukah kau mengajariku cara membaca jejak agar ku tak terperangkap pada sarang binatang buas. Maukah kau mengajariku tentang bagaimana caranya bertahan di saat ku kehabisan bekal di tengah perjalanan. Maukah kau mengajariku bagaimana ku harus bersikap tanggap di saat keadaan gawat darurat. Maukah kau mengajariku bagaimana caranya merentangkan dan mengikat tali-temali, serta memasang sabuk pengaman (harnest), menyematkan karabiner pada posisi yang tepat, menancapkan resin anchor atau bolt hanger pada bagian yang kuat, agar jika ku menemui jalan buntu dan terpaksa harus melewati tebing yang terjal dan curam, ku tak perlu repot tuk membuat tangga, cukuplah ku memanjatnya dengan menggunakan alat-alat itu semua, tanpa harus banyak merusak pohon dan tanaman disekitarnya. Maukah kau mengajariku tentang itu semua kawan??...